puisi

pelangi di senja hari

 

kutemukan indahnya hari

saat kau berada di sisiku

bersama-sama merangkai mimpi

dibawah naungan mentari senja

hujan gerimis menetes sahdu

membuat suasana tak menentu

namun kau yang menentramkanku

kulihat di seberang bukit

tersembul pelangi seindah wajahmu

tak pernah kulupakan semua itu

saat kita menikmati senja terindah

puisi

kenangan di ujung mata

 

sejuk udara yang kau hembuskan

mengalir di sekujur tubuh

menerobos semua bagian jiwa

menghidupkan hati yang tlah mati

kini

semua terasa seperti dulu

dingin tak berarti

sepi sendiri

direlung malam

hanya kenangan yang tercipta

menyembul dalam benak pikiran

kini hanya ada diujung mata

 

puisi

hidangan

 

saat kau buka mata

kau lihat hamparan 

terbentang luas

hujan dari atas

dan air muncul dari dalam tanah

pernah terasa sejuk

saat pagi hari

dengan embun yang menyelimuti jiwa

hangat saat mentari mulai naik

membuat tenang jiwa ini

harum bunga yang sedang mekar

membuat indah hari

itulah hidangan yang sangat lezat untuk kita syukuri

puisi kontemporer

kata melawan diam

 

diam itu emas

namun berkata selayaknya berlian

kalau berlian

tercurah keindahan

namun emas 

tercurah kemegahan

lebih suka yang mana

emas atau berlian

saat kau pilih berlian

maka emas akan hilang

namun jika memilih emas

engkau tak akan mendapat berlian

jadi diam atau berkata

mungkin berkata atau diam

itulah yang harus kita jaga